MENGAPA KITA HARUS KAYA?


dr. H. Monte Selvanus Luigi Kusuma, MMR
Ketua Komite Etik dan Hukum RS PKU Muhammadiyah Gombong


13/12/2023
_____________________

Imam Syafi'i pernah berdiskusi dengan gurunya yaitu Imam Syaibani. Dalam pandangan Imam Syafi'i, harta menempati posisi yang rendah dan hina. Harta itu yang halal akan dihisab, yang haram akan diazab. Harta sesedikit apa pun akan dicatat, apalagi yang besar, bisa metndatangkan laknat. 

Sementara gurunya yaitu Imam Syaibani adalah seorang hartawan. Rumahnya megah, dan emas perbendaharaan miliknya jika dikumpulkan bisa memenuhi rumahnya yang besar. Perniagannya lintas negara, bahkan lintas benua. Pendek kata beliau adalah seorang hartawan sekaligus seorang ulama yang sangat disegani di Irak. 

"Apakah engkau tidak suka dengan harta wahai Syafi'i?" Tanya Imam Syaibani.

"Mengapa kita tidak mengambil secukupnya saja sebagaimana Rasulullah dahulu ya Imam? Saya heran dengan orang-orang yang menumpuk harta, bukankah hal itu akan menyulitkan dirinya kelak di akhirat?"

"Jadi dalam pandanganmu, harta ini tidak berharga dan akan menyengsarakan kita Syafi'i? Baiklah jika seperti pandanganmu, bagaimana pendapatmu Syafi'i jika saat ini harta yang aku miliki aku bawa ke pasar lalu ku bagi-bagikan kepada orang munafik, orang fasik dan orang yang zalim?" Tanya Imam Syaibani.

Mendengar pertanyaan itu, Imam Syafi'i tersentak, "Wah jangan wahai Imam, jika harta itu di tangan orang munafik nanti akan dipakai untuk merusak kehidupan, dipakai orang fasik akan dipakai bermaksiat kepada Allah apalagi diberikan kepada orang zalim, akan bertambah kezalimannya dan akan semakin kuat kerusakan yang ditimbulkannya."

"Bagaimana jika harta itu di tangan orang yang shaleh wahai Syafi'i?"

"Iya benar wahai Imam, sungguh tepat jika harta itu berada di tangan orang yang shaleh. Melalui tangan orang yang shaleh, harta itu akan dimakmurkan di jalan Allah, digunakan untuk meninggikan kalimat-Nya di muka bumi," jawab Imam Syafi'i.

Imam Syaibani berkata, "Camkan baik-baik wahai Syafi'i, bahwa sesungguhnya dunia itu adalah amanah. Apabila orang yang baik tidak mau mengolahnya, tentu akan ada orang yang rusak yang mengolahnya. Apabila orang yang shaleh enggan menerima harta itu, pasti akan ada orang yang fasik yang akan menerimanya. Maka pilihlah menjadi orang yang shaleh yang mau menerima mengurusi amanah ini sebagai bekal kelak di akhirat."

Semenjak saat itu pandangan Imam Syafi'i berubah tentang harta, setiap Muslim harus menjadi orang kaya. Sampai-sampai Imam Syafi'i pun berpesan:

 الإسلام يعلو ولا يعلى عليه
 
"Islam itu tinggi dan tidak ada yang dapat menandingi ketinggiannya."

Salah satu makna dari pesan beliau adalah jika orang kafir bisa memiliki harta yang baik, maka kaum Muslim harus bisa meraih lebih baik dari pencapaian orang kafir, sekiranya orang kafir naik keledai ke pasar, maka umat Islam harus mengendarai kuda menuju pasar.

Maka menjadi kewajiban pula bagi orang-orang shaleh untuk menerima tampuk kepemimpinan, supaya orang-orang fasik tidak maju menjadi pemimpin umat sehingga menimbulkan kerusakan di mana-mana.

****

Sayangnya saat ini umat Islam menjadi penganut agama mayoritas nomor dua di dunia saat ini, namun umat Islam adalah salah satu yang paling banyak dirundung masalah, seperti masalah kemiskinan. 

Di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam, meskipun beliau hidup sederhana namun beliau adalah termasuk pemimpin imperium terbesar saat itu,  dan memiliki kekayaan yang luar biasa karena beliau pandai berdagang. Selain itu 10 sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga, sembilan diantaranya adalah orang yang luar biasa kaya yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Sa’id bin Zaid, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Bukan sebuah kebetulan pula dalam Al-Qur’an terdapat ayat paling panjang yang menjelaskan tentang perekonomian. (Al-Baqarah 282).

Dalam ajaran Islam, seorang muslim diajarkan bahwa memberi adalah lebih baik daripada menerima, hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam yaitu: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah”, selain itu alasan mengapa umat Islam perlu menjadi kaya antara lain:

1.Menjadi kaya untuk menjaga aqidah
Karena alasan ekonomi, seseorang bisa saja beralih aqidah menjadi kufur. Tidak sedikit hanya karena dijanjikan pekerjaan yang layak, atau tawaran harta benda, seorang Muslim bisa menjadi murtad. Oleh karena itu dengan menjadi kaya akan lebih mudah dalam menjaga aqidah serta menjadikan muslim yang dermawan.

2. Menjadi kaya untuk menjaga kehormatan diri (iffah) dari meminta-minta kepada orang lain. 
“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata: Nabi saw bersabda: Sebagian orang selalu meminta-minta hingga ketika sampai di hari kiamat, tidak ada sedikit pun daging di wajahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Maka seorang Muslim diharapkan menjadi seorang yang kaya sehingga dapat menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta kepada orang lain. 

3. Menjadi kaya agar dapat melaksanakan perintah agama.
Tidak dipungkiri bahwa banyak di antara peribadatan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam memerlukan pendanaan untuk melaksanakannya. Misalnya kewajiban zakat, perintah berhaji, mendirikan masjid, menyantuni fakir miskin dan lain-lain.

4. Menjadi kaya dalam rangka untuk menuntut ilmu.
Salah satu manfaat dari seorang muslim yang kaya yaitu harta yang dimiliki dapat dimanfaatkan sebagai biaya untuk mencari ilmu, karena sebagaimana yang kita tahu bahwa ilmu tidak bisa kita raih tanpa usaha yang cukup misalnya untuk biaya kuliah, membeli buku ilmu pengetahuan, atau pergi ke suatu daerah atau ke negara lain untuk sekolah. Menuntut ilmu juga sebuah keharusan dan hal tersebut juga terdapat di dalam Al-Quran surat Al-Alaq:1:5 yaitu “Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha pemuran, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

5. Menjadi Kaya untuk Menegakkan Ekonomi Syariah
Sebagaimana kita tahu saat ini ekonomi berbasis syariah masih terkendala dalam penerapannya, hal ini dikarenakan masih sedikitnya para muslim yang menanamkan modalnya untuk mengembangkan ekonomi syariah dan justru lebih banyak pemodal dari kaum non muslim. Hal ini mengakibatkan banyak sekali sistem riba yang menjerat terutama pada umat muslim. Oleh karena itu seorang muslim harus kaya agar ekonomi syariah dapat terus berkembang.

Jadi kesimpulannya yaitu Islam mengharuskan umatnya untuk menjadi kaya dan Islam melarang umatnya untuk menjadi budak/hamba dari harta tersebut, seorang muslim adalah menjadi majikan dari uang atau harta kekayaan. Hal ini sesuai dengan hadis riwayat Al-Bukhari yaitu “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba Qathifah (pakaian yang tebal), serta hamba Khamishah (Baju bergaris-garis dari sutera atau wol), jika diberi ia akan ridha dan jika tidak diberi maka dia tidak akan ridha”.

Al haqqu min robbika falaa takunanna minal mumtariin
Wallahu a'lam bish showab

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.